moralitas dekat sekali dengan kebaikan, setidaknya dalam pandangan sederhana, sedangkan kebaikan dekat dengan etika, yang berhubungan erat dengan sikap seseorang yang berupa perilaku seseorang dalam menyikapi suatu masalah, adapun baik buruk sikap seseorang dalam menentukan tindakannya di tentukan oleh seperangkat nilai yang di anut oleh setiap individu, atau bisa juga bersandar pada etika yang melekat pada ideologi yang dianutnya, namun demikian perbedaan ideologi yang dianut seseorang dengan lingkungannya menimbulkan satu bentuk kompromi sikap terhadap suatu masalah, ini bisa dilandasi oleh desakan konformitas atau sebuah konvensi sederhana yang berubah menjadi kultur. kultur ini terbentuk dari apa yang di namakan “etis”, yaitu sebentuk pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana harus bertindak atas suatu fakta.
persoalan-persoalan etis yang terbentuk melalui masalah tidak semuanya berubah menjadi kultur, namun hanya sebagian saja, yaitu hanya terletak pada masalah-masalah yang penting, karena banyaknya persoalan-persoalan etis, sehingga tahap seleksi alam menentukan persoalan etis manakah yang dapat menjadi kultur sebagai hasil kompromi sikap dari berbagai peliknya perbedaan anutan perangkat nilai,
sampai pada tahap ini seleksi terhadap masalah-masalah etis menjadi sisi penting dari penjelmaan sebuah kultur baru, yang menentukan besaran nilai dari setiap perangkat nilai yang menjadi determinan, yang pada akhirnya kultur baru pun berubah menjadi perangkat nilai baru yang cenderung independen. penjelmaan ini menjadi titik tolak perubahan karakter tatanan ideologi terten, yang dapat mengakibatkan terjadinya perbedaan-perbedaan hingga pada tahap mendasar,
hal ini terjadi pada perangkat nilai islam saat ini, bermula dari penyebaran islam yang dilakukan melalui pendekatan budaya, hingga terjadi asimilasi budaya yang mengakibatkan akulturasi budaya, ,,